Showing posts with label solusi rumah tangga. Show all posts
Showing posts with label solusi rumah tangga. Show all posts

NIKAH DULU PACARAN KEMUDIAN

Yuk Nikah...

Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian berkesanggupan (sudah mampu) maka hendaklah menikah. Karena sesungguhnya ia (menikah) dapat memejamkan mata dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu, maka berpuasalah. Maka sesungguhnya puasa itu benteng baginya. [HR Bukhari dan Muslim]

Seorang kakak kelas saya waktu sekolah dulu, punya pacar yang kalo dari segi fisik cukup bagus. Mereka pasangan yang serasi banget. Ibarat panci dengan tutupnya. Klop. Maklum, yang cowok selain pandai di bidang akademik, ia juga terampil berorganisasi dan yang wanitanya cerdas. Dua sejoli ini setahu saya, cukup akrab dan akur. Sampe-sampe banyak teman yang meramalkan bahwa pasangan ini bakalan terus langgeng sampe ke pelaminan.

Ternyata, ramalan tinggal ramalan, mereka berpisah alias putus ketika sama-sama lulus sekolah dan masing-masing menikah dengan pasangan lain. Yah, kita emang nggak bisa meramal. Dukun sekali pun nggak bisa meramal, mereka cuma nebak. Bahwa kita nggak bisa memprediksi. Intinya begitu. Jadi kalo pun sekarang semangat pacaran dengan tujuan ingin menikahinya, itu pun tetap masih gelap. Nah, pelajaran yang bisa diambil adalah kita harus pandai memilih jalur dan tentunya kudu akur bin klop dengan panduan hidup kita, yakni ajaran Islam. Setuju kan?

Ada juga sih memang, teman saya yang pacaran sejak bangku SMP sampe lulus SMU (karena kebetulan bareng terus dua sejoli itu), bahkan sampe masing-masing bekerja mereka tetap awet menjalin hubungan. Hingga akhirnya mengucap ijab-kabul di depan wali dan petugas pencatat pernikahan dari KUA. Mereka pasangan yang cukup bahagia. Model yang seperti ini juga nggak sedikit di lapangan. Mereka berhasil membina keluarga, yang saling dikenalnya sejak SMP melalui pacaran.

Tapi kenapa saya tetep ngotot ingin membahas masalah ini? Kenapa pula ingin mempersoalkan pacaran sebelum menikah? Ya, karena saya punya tanggung jawab untuk menyampaikan kebenaran. Memangnya pacaran sebelum menikah nggak benar? Memang pacaran nggak boleh? Memangnya kita bisa langsung menikah tanpa pacaran dulu?

Coba deh SMART!
Dalam ilmu manajemen dikenal istilah SMART. Apa tuh? Itu rumusan dari Specific, Measurable, Achievable, Reasonable, Time-phased. Walah, masa’ sih untuk menentukan apakah memilih pacaran atau menikah aja kudu pake istilah-istilah yang bikin ribet kayak gini?

Tenang sobat, saya mencoba mengenalkan rumusan ini karena menurut saya ini berlaku umum. Untuk tujuan apa saja. Tapi biasanya ini akan memberikan dampak yang cukup bagus untuk membuat komitmen bagi diri sendiri dan juga orang yang kita ajak membuat sebuah komitmen. Yuk, kita bahas satu per satu formula SMART ini.

Spesifik artinya tertentu atau khusus. Boleh dibilang tujuan kita harus tertentu, khusus, dan bila perlu jelas dan khas. Misalnya untuk apa kita pacaran? Tanamkan baik-baik pertanyaan itu dalam diri kamu. Sama seperti halnya untuk apa kita belajar. Tiap orang mestinya akan berbeda-beda menjawabnya karena sesuai tujuan. Ada yang pacaran mungkin sebatas ikutan tren, ada yang menjawab sekadar iseng, ada pula yang menjawab sebagai sarana mengenal pasangan yang akan dinikahi. Eh, saya kok malah ragu kalo pada usia yang masih ABG ini kita berkomitmen bahwa pacaran untuk mengenal pasangan yang akan dinikahi. Tul nggak? Menurut kamu gimana?

Jujur saja. Saya nggak nuduh, cuma saya sendiri sampe usia sekarang masih merasakan masa-masa ABG dulu, bahwa tuntutan untuk memiliki kekasih (pacar) lebih karena panas akibat dikomporin teman yang udah punya gandengan atau karena kebutuhan untuk berbagi rasa dengan lawan jenis. Tapi sejatinya, kalo ditanya tentang nikah, pasti bingung dan langsung kehilangan kata-kata. Bahkan nggak memikirkan sedikit pun, kecuali mungkin kalo yang ditanya udah dewasa ada yang langsung mantap menjawab sebagai upaya mengenal pasangan untuk menikah. Jadi intinya, kalo sekadar iseng percuma aja. Nggak punya tujuan yang jelas dan khas serta tertentu bisa berabe nantinya.

Nah, rumus yang kedua sebuah tujuan itu harus Measurable alias bisa terukur. Kalo tujuan belajar adalah untuk ibadah dan ingin mendapat wawasan, maka itu pun harus terukur. Misalnya, apa yang bisa didapatkan dari belajar. Kira-kira memuaskan nggak kalo sudah dapat sampe level tertentu yang sudah direncanakan. Ada tingkat keberhasilan yang bisa terukur. Begitu pun dengan membina hubungan seperti pacaran, bisa nggak terukur kegiatan itu. Jangan asal aja. Hubungan seperti apa yang bisa dijalin, dan tolong dinilai apakah dengan mengetahui karakter dia sudah dianggap terukur dari tujuan semula atau belum, apakah pertemuan dan kualitas curhat dianggap sebagai bentuk hasil hubungan yang bisa terukur untuk menentukan kelayakan hubungan tersebut bisa dilanjutkan atau tidak. Jadi, kalo cuma main-main dan sekadar iseng, enaknya lakukan kegiatan lain aja yang tak berisiko tinggi. Karena ujungnya mesti nggak bisa dipertanggungjawabkan.

Ketiga, soal Achievable alias dapat dicapai. Tentukan pencapaiannya. Misalnya, kalo belajar sekian minggu kita bisa apa. Kalo pacaran selama dua tahun sudah tahu apa aja dari pasangan kita. Masalah apa aja yang bisa diketahui dan kita kenal dari pasangan yang kita pacari. Tentukan target pencapaiannya. Nggak asal melakukan aja. Nah, kalo kira-kira proyek pacaran itu nggak bisa dicapai hasil-hasilnya, buat apa dilakukan. Betul ndak?

Terus tentang Reasonable itu bisa diartikan layak, pantas, dan masuk akal. Oke jika pacaran dianggap layak, pantas, dan masuk akal, tentu harus ada ukurannya dong. Apa yang membuat pacaran itu pantas, apa yang membuat pacaran itu masuk akal. Jika memang ada, coba tunjukkan kepada orang-orang. Soalnya, kalo pacaran itu dianggap sebuah proyek yang bisa memuluskan proses mengenal pasangan untuk dinikahi, maka harus jelas juga apakah ini termasuk proyek padat karya atau padat modal (idih, kayak usaha aja?). Iya, maksudnya kita kudu merinci dengan detail sebelum melakukan pacaran apakah masuk akal atau cuma proyek fiktif dan bahkan termasuk ekonomi berbiaya tinggi? Silakan dipikirin.

Nah, yang terakhir adalah Time-phased, ini artinya kita kudu menentukan tahapan-tahapan waktunya. Kapan memulai, kapan mencapai klimaks, dan kapan mengakhiri. Ini kudu jelas, bila perlu dibuat grafik supaya jelas tergambar semua urutan waktunya. Kayak kalo kerja di bidang penerbitan media massa, pasti ada urutan waktu: mulai dari rapat redaksi, membagi tugas kepada para reporter, para jabrik menulis hasil kerja koresponden dan reporter, editing oleh tim editor bahasa, kapan setting, tanggal berapa naik cetak, sampe hari apa harus edar ke pembaca. Semua urutan waktu itu punya makna.

Bagaimana dengan pacaran, mungkin bisa dirinci: pada usia berapa saya berani pacaran, kapan kenalannya, dengan siapa, orang yang kayak gimana, tujuannya apa, kapan bisa mengetahui isi hati dan perilakunya, kapan bisa mengenal keluarganya, tahun berapa punya modal, kapan serius memikirkan nikah, dan kapan waktu harus menikah. Semua itu harus jelas urutannya. Jangan sampe pas ditanya sama calon mertua, “Kapan bisa menikah dengan anak saya?”, kamu jawabnya, “Ya, sekarang mah mau main-main dulu aja, Pak. Saya juga masih kuliah. Belum kerja!” Waduh, belum siap kok nekat?

Main-main terus, atau mulai serius?

Oke deh, semoga kamu paham dengan paparan formula yang saya tulis. Ini sekadar ingin ngajak kamu merenung aja. Apakah selama ini apa yang kamu lakukan dengan memilih pacaran dulu sebelum merit menguntungkan atau tidak secara ekonomi, sosial, dan juga politik (eh, secara politis orang tua itu suka kepada anak-anak yang mandiri dan bertanggung jawab, kalo cuma iseng aja atau masih perlu milih-milih dan apalagi tanpa ikatan jelas dan kuat, maka bisa meruntuhkan keyakinan dan kepercayaan mereka kepada kita. Suer!).

Sobat muda muslim, kalo dalam proyek pacaran kamu nggak bisa mempertanggungjawabkan formula SMART ini, jangan harap bisa benar pacarannya. Ini baru dilihat dari sudut pandang manajemen lho. Belum hukum Islam. Karena kalo bicara hukum, meskipun terpenuhi unsur lain, misalnya sudah sesuai formula SMART, tapi dalam hubungannya melanggar batasan-batasan yang ditetapkan Islam, maka tetap tertolak dan diberi label dosa.

Gimana, masih tetep pengen pacaran dulu? Saran saya sih, jangan dikalahkan oleh nafsu, jangan rela akal sehat dijajah gerombolan setan yang menutup mata dan hati kita dari kebenaran. Oke deh, lanjutin ke bagian berikutnya. Insya Allah soal nyari pasangan yang pas dengan formula SMART dan sekaligus sesuai syariat akan kita bahas juga. Tetep semangat!


Di sadur dari buku: Loving You, Merit Yuk

APA YANG DIANJURKAN RASULULLAH KETIKA ANAK KITA LAHIR

bayi baru lahir

Hal-hal Yang Dianjurkan Dan Disunnahkan Oleh Rasulullah  Berkaitan Dengan Anak Yang Dilahirkan diantaranya adalah dengan Bergembira Dengan Anak Yang Dilahirkan, Baik Berupa Laki-laki Maupun Perempuan. 


Diantara yang dianjurkan dan disunnahkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk merasa gembira dengan anak yang dianugerahkan kepadanya oleh Allah SWT sebagai titipannya. Baik anak tersebut berupa anak laki-laki maupun anak perempuan. Baik anak itu seperti yang diharapkan kedua orang tuanya atau tidak seperti yang diharapkannya. 


Akan tetapi terkadang ketika anak yang dilahirkan berupa seorang anak perempuan, maka dia merasa tidak bahagia dan tidak senang dengan kelahiran tersebut. Dan ini merupakan salah satu dari pada adat jahiliyyah yang dibenci oleh Allah dan Rosulnya . 


Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِمَا ضَرَبَ لِلرَّحْمَٰنِ مَثَلًا ظَلَّ وَجْهُهُۥ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ

Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa (kelahiran anak perempuan) yang dijadikan sebagai misal bagi Allah Yang Maha Pemurah; jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan sedih

Maka tidak sepatutnya bagi suami istri ketika mendapatkan anugrah berupa seorang anak perempuan dia merasa tidak senang dengan kehadirannya, atau di dalam hatinya dia mengatakan, “Jikalau anak itu berupa seorang laki-laki, maka akan lebih baik.” Karena Allah SWT tidak menentukan sesuatu untuk kita kecuali yang terbaik. 


Baik berupa kebaikan dalam pandangan mata kita maupun berupa keburukan, maka pada hakikatnya di balik itu semua merupakan sebuah kebaikan. Karena kebaikan disini bukan hanya kebaikan yang dirasakan kesenangannya, kebahagiaan di dunia saja. Akan tetapi berlanjut kelak hingga di akhirat. 


Oleh karenanya dalam syariat dibedakan antara ni’mat (نِعمة) sama na’mat (نَعمة) . Kalau ni’mat, maka sebuah kenikmatan yang bersambung dengan kenikmatan selanjutnya di akhirat. Adapun na’mat adalah sebuah kenikmatan yang terbatas hanya di rasakan di dunia saja. 


Maka dari itu, maka hendaknya kedua orang tua merasa yakin dengan anugrah dari pada Allah Ta’ala berupa anak pasti yang terbaik baginya, baik laki-laki maupun perempuan.

Anak Laki-laki dan Perempuan Semua Istimewa


Bahkan di dalam surah Al-Kahfi disebutkan bahwasanya anak yang dibunuh oleh Nabiyullah Khidhir AS karena kelak akan menjadikan kedua orang tuanya kafir karenanya, itu adalah seorang anak laki-laki. Kemudian Allah menjanjikan untuk kedua orang tuanya dengan ganti dari pada anak yang dibunuh tersebut dengan anak yang lebih baik. 


Ternyata anak yang dijanjikan oleh Allah tersebut berupa seorang anak perempuan. Dan akhirnya Allah SWT mengeluarkan dari pada rahim wanita tersebut 70 Nabi dari kalangan Bani Isra’il. Maka di sini kita dapat memahami bahwasanya pada anak perempuan juga ternyata ada kebaikan. Atau tidak terduga kebaikan itu dari anak laki-laki ataukah anak perempuan. 



Oleh karena itu Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

فَإِن كَرِ‌هْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَن تَكْرَ‌هُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّـهُ فِيهِ خَيْرً‌ا كَثِيرً‌ا ﴿١٩

Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.

Dan Al-Imam Al-Ghozali berkata bahwasanya: Bisa jadi kedua orang tua yang merasa tidak bahagia ketika mendapatkan seorang anak perempuan, kelak ketika anak itu sudah dewasa dan besar, dia akan mensyukurinya. Dan bisa jadi ketika kedua orang tua yang merasa bangga dan bahagia ketika yang dilahirkan berupa seorang anak laki-laki, ternyata setelah anak tersebut dewasa dan besar, ia akan menyesalinya. 

Oleh karena itu, serahkan kepada Allah SWT dan harus diyakini bahwasanya yang diberikan-Nya adalah yang terbaik untuk kita. Dan cukup merupakan sebuah keburukan bagi seorang hamba jika dia itu merasa tidak senang dengan anugrah yang Allah berikan kepadanya.

Dan berkata Ya’qub bin Bukhtan yang dia itu mempunyai tujuh anak semuanya perempuan. Setiap kali dia mendapatkan anak perempuan tersebut, maka dia datang kepada Imam Ahmad bin Hambal untuk memberitahukannya dan meminta nama kepadanya. 


Maka Imam Ahmad bin Hambal memberikan ucapan selamat kepadanya seraya berkata, “Wahai Abu Yusuf… Sesungguhnya para Nabi adalah ayah dari pada anak-anak perempuan.” Sehingga kata-katanya tersebut menghilangkan rasa susahku dan sedihku karena selalu mendapatkan anak perempuan. Karena memang disebutkan oleh para ahli sejarah bahwasanya kebanyakan para Nabi melahirkan anak-anak perempuan.


Banyak Yang Baca:
14 Kiat Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga
8 Adab Ketika Sakit Yang Wajib Kita Ketahui


Bahkan di dalam kita mendapatkan anugrah berupa anak perempuan, di situ ada janji Allah SWT berupa pahala yang banyak dan berhaknya kita mendapatkan surga. Asalkan kita benar-benar mendidiknya sehingga mereka semuanya menjadi dewasa. Sebagaimana hal itu disebutkan oleh Nabi dalam hadits-hadits berikut ini:

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها ، قَالَتْ : جَاءَتْ امْرَأَةٌ وَمَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِي شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ ، فَأَعْطَيْتُهَا إيَّاهَا فَأَخَذَتْهَا فَشَقَّتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا ، ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ هِيَ وَابْنَتَاهَا ، فَدَخَلَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى تَفِئَةِ ذَلِكَ فَحَدَّثَتْه حَدِيثَهَا ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إلَيْهِنَّ ، كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

Dari Sayyidah Aisyah RA dia berkata: “Pernah suatu waktu datang seorang wanita bersamanya kedua anak perempuannya untuk meminta kepadaku. Aku tidak mendapatkan sesuatu untuk aku berikan kepadanya selain sebuah kurma. Maka aku berikan kurma tersebut. Kemudian oleh perempuan itu, kurma itu dibagi dua lalu diberikan kepada kedua putrinya. Setelah itu mereka beranjak dari rumahku. Kemudian Nabi  datang setelah mereka pergi. 

Maka aku ceritakan tentang keadaan perempuan tersebut dengan kedua putrinya. Maka Rosulullah SAW bersabda: Barang siapa yang diberikan ujian dengan mempunyai anak perempuan lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi sebab bagi orang tuanya untuk tidak dimasukkan ke dalam neraka.

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لاَ يَكُوْنُ لِأَحَدٍ ثَلَاثُ بَنَاتٍ, أَوْ ثَلَاثُ أَخَوَاتٍ, أَوْ بِنْتَانِ, أَوْ أُخْتَانِ فَيَتَّقِى اللهَ فِيْهِنَّ وَ يُحْسِنُ اِلَيْهِنَّ اِلَى دَخَلَ الجَنَّةِ


Tidaklah seseorang mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, kemudian dia bertaqwa kepada Allah di dalam mengurus anak-anaknya ataupun saudara-saudarinya tersebut dan berbuat baik kepada mereka kecuali hal ini akan memasukkannya ke dalam surga.

عن ابن منكدر أن النبي  قال: مَنْ كَانَ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ أَوْ أَخَوَاتٍ فَكَفَاهُنَّ وَزَوَّجَهُنَّ دَخَلَ الجَنَّةَ

Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan, lalu dia menjaga mereka dan memberikan tempat untuk mereka dan kemudian mengawinkan mereka semua kecuali dia akan dimasukkan ke dalam surga karenanya. 

Maka mereka berkata, “Bagaimana kalau dua anak perempuan ya Rosulullah?” Maka Nabi  menjawab, “Walaupun dua anak perempuan.” Bahkan kami mengira jikalau mereka mengatakan, “Bagaimana kalau seumpama satu anak perempuan ya Rosulallah?” Maka pasti Nabi  akan mengatakan, “Walaupun satu anak perempuan .“


Kesimpulannya, bahwasanya anak merupakan sebuah anugrah Allah Ta’ala apapun bentuknya, baik anak laki-laki maupun perempuan. Dan yang pasti, anugrah Allah Ta’ala tersebut adalah yang terbaik bagi kita. Hanya saja jika anak perempuan yang kita dapatkan, maka kita diperintahkan untuk merasa senang sebagaimana senang kita ketika mendapatkan anak laki-laki. 


Dan dianjurkan berdasarkan hadits-hadits tersebut di atas, bagi orang tua yang mendapatkan anak perempuan untuk lebih berhati-hati dan lebih menjaga serta mendidik mereka. Karena memang anak perempuan itu merupakan fitnah bagi kedua orang tuanya, atau suaminya kelak, begitu pula bagi anak-anaknya nanti.







7 SEBAB RETAKNYA RUMAH TANGGA


Rumah Tangga Retak? Mungkin ini Sebabnya

Setiap pasangan suami-istri tidak ingin ada keretakan dalam rumah tangga mereka. Namun, manusia, dengan syahwat dan kerakusannya, acap tak dapat mengendalikan syahwatnya itu dan tak dapat menjadi hamba yang dapat menerima sesuatu dengan apa adanya. 


Iblis dan pasukannya pun selalu berusaha mengelabui manusia dengan berbagai cara hingga umat manusia menjadi golongan penghuni neraka bersama mereka, sehingga terjadinya keretakan hubungan suami-istri pada hakikatnya bersumber dari godaan setan. Itulah sebabnya, thalaq, meski hukumnya mubah, dibenci Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

أَبْغَضُ الْحَلاَلِ عِنْدَ اللهِ الطَّلاَقُ   رواه أبو داود

”Paling dibenci pekerjaan halal di sisi Allah adalah thalaq.” – HR Abu Daud.


Perceraian kerap mengakibatkan putusnya hubungan silaturahim, kesengsaraan anak-anak, dan sebagainya. Sebab-sebabnya, pada umumnya karena ketidakpatuhan atau pelanggaran pada perintah agama. Kita memang perlu mengetahui sebab-sebab itu, agar kita dapat menjauhinya, sehingga rumah tangga kita menjadi rumah tangga yang sakinah dan mawaddah.
Adapun sebab-sebab tersebut adalah sebagai berikut:
1
Kebodohan pasangan suami-istri perihal hukum nikah


Setiap muslim dituntut oleh agamanya untuk mempelajari ilmu yang berkenaan dengan apa yang akan dilakukannya. Misalnya, seseorang yang ingin menikah harus belajar tentang hukum nikah, mulai dari syarat sahnya nikah, hak dan kewajiban suami-istri. 

Itu dilakukan sebelum menikah, sehingga pernikahan tersebut didasari dengan ilmu. Ilmu itulah yang akan menuntun pasangan suami-istri un-tuk hidup saling menghormati, melaksanakan hak masing-masing, dan memberi solusi terhadap masalah yang dihadapi.
Jika rumah tangga yang dijalani tidak didasari ilmu agama, masing-masing pihak akan berbuat seenak hatinya dan menuruti hawa nafsunya. Inilah yang pada akhirnya berakibat pada keretakan, perselisihan, lalu perceraian. Oleh karenanya Rasulullah SAW bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ   “رواه مسلم

”Belajar ilmu agama itu wajib atas setiap muslim dan muslimat.” – HR Muslim.
2
Melepaskan pandangan pada yang haram


Baca Juga:
10 Nasehat Yang Hendak Nikah,Dari Ibu 
Sesungguhnya membiarkan pandangan mata bebas berkeliaran dan melihat pada yang haram merupakan salah satu sebab utama terjadinya kere-takan rumah tangga. Tak sedikit seorang suami menceraikan istrinya berawal karena ia memandang perempuan yang tak boleh dipandangnya. 

Ia tertarik dengan perempuan itu, kemudian acuh tak acuh terhadap istrinya sendiri, dan akhirnya terjadilah perceraian. Begitu pula sebaliknya. Berapa banyak perem¬puan yang lari dari suaminya dengan laki-laki lain dan itu bermula karena ia melihat hal yang haram.
Oleh karenanya, dalam Al-Qur’an, Allah SWT memerintahkan kita untuk menahan pandangan haram tersebut yang artinya :
”Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ’Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang beriman, ’Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya’.” – QS An-Nur: 30-31.
Begitu juga seperti apa yang telah disabdakan Nabi Saw :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ عَنِ النَّبِيْ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ”كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمْ نَصِيْبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مُحَالَةَ، العَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقْ ذَلِكَ الْفَرْجُ أَوْ يُكَذِّبُهُ  ” رواه مسلم

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, ”Telah ditulis atas setiap Bani Adam sebagai bagian dari perbuatan zina dan ia tak mustahil akan melakukannya. Zina kedua matanya adalah dengan memandang, zina kedua telinga adalah dengan mendengar, zina lidahnya adalah dengan berbicara, zina tangannya adalah dengan meraba, zina kakinya adalah dengan melangkah, sedangkan hati berkeinginan dan berangan-angan, kemudian diteruskan kehendak tersebut oleh kemaluannya atau dibatalkannya.” – HR Muslim.
Maksud hadits tersebut, semua anggota badan manusia juga ikut andil dengan terjadinya perbuatan zina. Pada awalnya seseorang memandang, lalu tertarik, berkenalan, berjalan berduaan, tangan pun beraksi, hingga akhirnya terjadilah perbuatan zina yang sesungguhnya.
3
Berpakaian dengan pakaian terlarang


Setiap wanita muslimah diwajibkan menutup auratnya. Tujuannya, tak lain, demi menjaga kesucian wanita itu sendiri. Ironi zaman sekarang, wanita seakan tak ingin kesuciannya dijaga, bahkan seakan ”ingin” dirusak kesuciannya dengan pakaian-pakaian yang terbuka auratnya, bahkan dengan membuka aurat yang tak boleh dilihat oleh mahramnya sekalipun, yaitu dengan membuka sekitar pusar dan pahanya.


Lelaki yang melihat tentu tertarik, si perempuan pun digoda, dan tergoda. Atau, tak sedikit yang kemudian diperkosa, dan ini pun menjadi sebab keretakan hubungan suami-istri.
Karenanya, jika seseorang betul-betul melaksanakan syari’at agama, ia akan selamat dunia dan akhiratnya.
Zaman sekarang kaum perempuan keluar dari rumah mereka dengan pakaian-pakaian yang tak menutupi auratnya. Ada yang pakai pakaian you can see, rok mini, yang mempertontonkan paha dan pusarnya. 

Tapi kalau di rumah ia memakai baju dapur, yang tentu tak menarik sama sekali bagi suaminya. Jadi, sesungguhnya mereka berdandan dengan dandanan yang seronok itu untuk siapa?
4
Berjabat tangan dengan lawan jenis


Berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan istri atau mahramnya adalah haram. Tidaklah itu diharamkan agama kecuali karena ada hikmah di balik pelarangannya. Antara lain, karena dapat menimbulkan rangsangan syahwat, membuka peluang godaan setan. Persentuhan kulit tentu akan lebih menggerakkan syahwat daripada sebatas memandang.


Tidaklah tepat jika ada yang mengatakan bahwa hal itu sudah biasa dilakukan banyak orang, karena yang penting hatinya bersih, tidak ada apa-apa. 

Saudaraku, siapa yang lebih bersih hatinya daripada Rasulullah SAW. Hati beliau adalah hati yang paling bersih, agung, mulia, tak ada noda setitik pun, tapi beliau tak pernah sekali pun berjabat tangan dengan seorang wanita yang bukan istri dan mahramnya, sebagaimana sabda beliau:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ”إِنِّيْ لاَ أُصَافِحُ النِّسَاءَ“  رواه أحمد والترمذي والنسائ

”Aku tidak berjabat tangan dengan para wanita.” HR Ahmad, At-Turmudi, An-Nasa’i.

Jika berjabat tangan dengan wanita boleh dilakukan, niscaya Rasulullah SAW melakukannya ketika membai’at para sahabat wanita, akan tetapi kenyataannya Rasulullah SAW membai’at mereka dengan ucapan saja.
5
Istri yang lebih mementingkan karier


Agama tak melarang wanita untuk berkarya atau berkarier, akan tetapi hendaknya aktivitas yang dilakukannya itu dijalaninya di rumah atau di tempat tertutup yang semua pekerjanya para wanita. 

Itu pun dengan syarat bila aktivitasnya itu tidak sampai melalaikan kewajibannya sebagai istri terhadap suaminya dan sebagai ibu dari anak-anaknya. Karena mencari nafkah itu adalah kewajiban seorang suami, bukan istri.
Seorang istri mempunyai kewajiban tersendiri, misalnya menjaga anak-anaknya, menyiapkan makanan dan menyambut serta menghilangkan keletihan suaminya tatkala pulang nanti. Dapatkah itu dilakukan jika ia juga bekerja, terlambat pulangnya, atau sudah telanjur letih ketika tiba di rumah. 

Maka faktor keletihan, kelelahan, ditambah lagi jika ada masalah di kantor, semua itu akan menjadi sebab yang memicu pertengkaran, perselisihan, yang akhirnya menjurus kepada penceraian.
Apalagi bila di tempat kerjanya ia menjabat sekertaris, yang hanya berduaan dengan bosnya, atau bercampur antara laki-laki dan perempuan, yang akhirnya akan menimbulkan kedekatan antara mereka, saling curhat, bermesra-mesraan, hingga akhirnya berselingkuh. 

Bila ada seorang laki-laki berdua-duaan dengan perempuan yang bukan istri atau muhrimnya, itu adalah peluang bagi setan untuk menggodanya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:

عَنْ عُمَرَ بْنِ خَطَّاب رَضِيَ الله عَنْهُقَالَ ”لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا“  رواه الترمذي

Dari sahabat Umar bin Al-Khaththab RA, ia berkata, ”Tidak menyendiri seorang laki-laki dan perempuan kecuali setan akan menjadi orang ketiganya.” – HR At-Tirmidzi.
6
Komunikasi dengan lawan jenis yang melebihi batas


Pasangan suami-istri, tatkala sudah resmi menikah, dituntut untuk saling menjaga dan berhati-hati dalam berkomunikasi dengan lawan jenisnya, demi keutuhan rumah tangganya. Bedakanlah dalam bersikap ketika masih lajang dan ketika sudah menikah. 

Mungkin sebelum menikah ia mempunyai kenalan atau teman dekat yang ia biasa berbagi cerita, bercanda, atau bahkan keluar bersama-sama (yang semua itu pun sesungguhnya dilarang agama), dan jika dilakukan setelah menikah akan lebih berbahaya lagi. 

Jika kebiasaan itu tetap dilakukan, walaupun dengan alasan masih pada batas yang wajar, tentu akan menimbulkan kecurigaan dan prasangka tidak baik pada pasangannya. Ini juga dapat menjerumuskan pasangan pada jurang penceraian.
7
Efek negatif media publik


Masyarakat dunia saat ini tak dapat melepaskan diri dari alam globalisasi. Penyebaran media, baik cetak maupun elektronik, ada di setiap jengkal kehidupan manusia modern.
Namun media hanyalah alat. Bisa menjadi sesuatu yang positif bagi umat manusia, tapi dapat pula menjadi hal yang negatif. Banyak sudah paparan dan imbauan pihak-pihak yang berkompeten, termasuk ulama, terkait dampak buruk media di tengah kehiduan umat manusia. 

Dampak negatifnya bahkan terbilang sangat dahsyat. Dalam konteks inilah, setiap kita hendaknya ekstra berhati-hati dalam menyikapi dampak-dampak buruk yang dihadirkan oleh media yang ada di sekitar kita.

Sebagai contoh acara televisi akhir-akhir ini yang banyak tidak mendidik, bahkan menyesatkan dan menjauhkan umat Islam dari agamanya. Mulai dari pemberitaannya, sinetron-sinetronnya, maupun film-filmnya. Begitu pula tayangan-tayangan langsung, baik berupa konser, dangdutan, yang mencampuradukkan laki-laki dan perempuan, ditambah lagi dengan perilaku-perilaku yang tak tahu malu, dan seterusnya.
Hemat kami, semua itu bukanlah hiburan, akan tetapi lebih sebagai racun yang sangat berbisa yang disuguhkan oleh musuh-musuh Islam yang berkeinginan untuk menghancurkan aqidah kaum muslimin dan membutakan mereka akan akhlaq dan budaya Islam.
Pengaruh acara-acara televisi semacam itu tanpa disadari masuk ke dalam otak mereka, mengajarkan kebebasan dalam bergaul dengan lawan jenis, membiasakan perilaku akhlaq yang bejat. Mereka pun meniru adegan-adegan yang dalam pandangan mereka itulah kehidupan yang sesungguhnya, sehingga mereka pun memandang itu sebagai hal yang lazim, lumrah, biasa. 

Pada gilirannya, tak sedikit istri yang membangkang atau durhaka kepada suaminya, karena otaknya sudah dijejali ”kebiasaan-kebiasaan” yang dilihatnya sehari-hari dari televisi. Memang sudah menjadi tabiat manusia: belajar dan meniru dari apa yang dilihat dan disaksikannya.
Ditambah lagi dengan merebaknya jejaring sosial seperti facebook, twitter, dan lain lain, hingga sering terdengar berita bahwa tak sedikit rumah tangga kaum muslimin retak jalinan perkawinannya karena adanya hubungan-hubungan di luar batas lewat situs-situs jejaring sosial tersebut.
Semoga kita semua, khususnya para pembaca website, mendapat keharmonisan selalu dengan pasangannya masing-masing dan tidak akan terpisah selama-lamanya di dunia hingga akhirat nanti. Amin ya rabbal alamin…
(Al Habib Seggaf Baharun.)


NASEHAT ULAMA

More »

RUMAH TANGGA

More »

WANITA DAN ANAK

More »

KISAH ULAMA

More »

HUKUM

More »

AMALAN

More »